Perjumpaan Yang Mengubah Hidupku


Menjadi kaya, sukses dan mandiri, dulu itu adalah impianku. Sejak kecil aku di ajar untuk mengejar semuanya itu. Aku dilahirkan sebagai anak kedua dari dua bersaudara. Namaku Puji, bagiku masa lalu tak pernah ada, dan masa depan adalah sesuatu yang tertutup kabut. Aku dilahirkan dan besar tanpa mengenal ayahku. Aku tidak pernah tahu sanak saudaraku, dan silsilah keluargaku. Semua itu masih menjadi misteri bagiku.
Namun kehidupan memang penuh misteri, jadi untuk apa memusingkan diri dengan semuanya itu. Hari ini aku belajar untuk hidup di masa sekarang. Kemarin sudah lewat, dan esok belum datang. Untuk apa dibebani dengan apa yang telah lewat dan mengkuatirkan apa yang belum tentu terjadi.
Jika aku berkata menjalani semua itu adalah hal yang mudah, aku adalah pembohong besar. Hidup di hari ini tidak semudah yang dikatakan.
Sejak kecil, aku dihantui olehh masa lalu, dan melihat buramnya masa depan. Ibuku hanyalah seorang pembantu, dan aku dibesarkan dengan keringat dan kerja kerasnya. Dalam benakku tertanam sebuah gambaran buramnya kehidupan.
Aku tidak pernah dengan bangga dapat berkata siapa orangtuaku, dan pekerjaan mereka. Bagaimana aku bisa bangga, aku begitu membenci ayahku, pria yang melalui dia Tuhan menaruh benih kehidupanku. Aku tak pernah mengenalnya, namun sangat membencinya. Kemarahanku dan kebencianku menjadi murka kepada semua pria.
Tertunduk dalam hardikan dan pandangan merendahkan karena pekerjaan ibuku membuatku tidak bisa mengangkat wajahku dihadapan orang lain. Seringkali aku merasa harga diriku tercabik-cabik, dan direndahkan, padahal itu hanya perasaanku saja. Aku bertumbuh menjadi anak yang minder, penyendiri, penuh amarah dan penuh ambisi. Ambisiku adalah menjadi kaya, membuktikan bahwa aku tidak bisa direndahkan begitu saja, aku ingin mereka mengakui keberadaanku, aku haus pengakuan dan pujian (tanpa menyadari bahwa pada faktanya aku sudah bernama “puji”).
Duduk dibangku paling belakang ketika ibadah pemuda remaja adalah sebuah tempat aman bagiku. Saat itu aku memasuki awal tahun duduk di bangku SMA. Sesuatu yang tidak mudah, aku memasuki sekolah baru, berpisah dengan satu-satunya sahabatku saat SMP, dan masuk dalam sebuah gereja baru. Keluarga dimana ibuku bekerja pindah gereja, jadi aku dan ibuku harus ikut dimana mereka berjemaat.
Saat itu, aku tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang memperhatikanku. Dengan sikap minder, dan cuekku, aku memang tidak pernah menyadari kalau ada orang yang sedang mengamatiku, hal itu masih terjadi hingga sekarang. Minggu demi minggu berjalan, hingga satu titik wanita yang lebih tua beberapa tahun dariku itu berhasil mendekatiku dan akhirnya menjadi kakak pembinaku.
Percaya atau tidak, aku tidak bisa mengingat bagaimana aku bisa mulai dekat dengannya dan mempercayainya. Namun, waktu demi waktu kami lalui, dan dia berhasil membuat aku percaya kepadanya. Namanya kak Anti, saat itu dia memimpin komsel bersama sahabatnya, kak Lily.
Kak Anti inilah yang membawaku mengenal Tuhan yang sebelumnya hanya ku kenal namaNya saja. Sejak kecil aku sudah tahu siapa Yesus, apa yang bisa dilakukanNya, dan bagaimana Dia mati di kayu salib, namun aku tak pernah mengenal Dia sebagai seorang Bapa.
Aku masih ingat, sewaktu itu kami sedang komsel. Untuk pertama kalinya aku di minta untuk berdoa, namun setelah mereka menunggu beberapa waktu lamanya, tak sepatah katapun yang bisa terucap dari bibirku. Aku hanya bisa membisu.
Kapan tepatnya aku mengundang Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatku, aku tidak ingat. Aku hanya ingat, setelah itu, sedikit demi sedikit hidupku berubah.
Aku ingat benar betapa sulitnya aku berdoa dengan memanggil Tuhan sebagai Bapa. Aku tidak bisa membayangkan seperti apakah bapa itu. Bagiku seorang bapak adalah orang yang tidak bertanggung jawab. Dia membiarkan ibuku bekerja keras dan menderita. Bapak bagiku adalah seseorang yang hanya memikirkan kesenangannya sendiri. Dia bahkan tidak berusaha untuk mencari tahu bagaimana keadaanku, dan seperti apa aku. Dia sama sekali tidak peduli dengan anaknya. Dengan gambaran seperti itu, bagaimana aku bisa panggil Tuhan sebagai Bapa.
Dipelukan kak Anti, aku belajar akan kasih Bapa. Di ijinkannya aku menumpahkan rasa sakit yang kurasakan, dan dia mengajarku untuk belajar mengampuni. Aku belajar mengampuni… dan mengijinkan Tuhan untuk memperkenalkan diriNya sebagai Bapaku.
Hari ini aku masih bertumbuh dan belajar menjadi seorang anak dari Bapa sorgawiku. Sekalipun masih terbersit keinginan dalam hatiku untuk mengetahui seperti apa bapak jasmaniku, dan silsilah keluargaku, namun aku sudah menemukan Bapa sejatiku, silsilahku yang sejati sebagai anak Allah.
Waktu berlalu, aku bertumbuh dari anak rohani kak Anti menjadi rekan pelayanannya, itu menurut pendapatnya. Tapi hal itu menjadi sebuah sanjungan bagiku. Aku melihat diriku empat belas tahun lalu, sudah menjadi pribadi yang berbeda sekarang. Aku yang dulu hanya bisa tertunduk dihadapan orang lain, kini bisa mengangkat wajahku dan menatap orang yang ku temui. Ku angkat wajahku bukan karena kesombonganku, tapi sebuah kesadaran bahwa aku berharga, tidak peduli status sosialku, tidak peduli masa laluku, tidak peduli bagaimana aku sekarang, aku adalah pribadi yang berharga dan mulia karena Yesus sudah menebusku dengan darahNya.
Kini aku bisa berbicara dihadapan banyak orang, bahkan aku pernah berkotbah di ratusan anak-anak pelajar, aku tahu semua itu kasih karunia Tuhan. Sebuah kenangan yang Tuhan berikan bagiku untuk mengingatkanku bahwa ada sebuah potensi yang Dia taruh dalam hidupku.
Kini aku belajar menjalani hari dengan hidup di hari ini. Aku belajar untuk berjalan dengan tuntunan tangan Bapaku. Setelah sekian lama berlalu, dan menengok kembali kebelakang, kusadari benar betapa besar cintaNya Tuhan kepadaku. Dia tidak pernah meninggalkanku, saat aku berjalan di tanah yang rata Dia ada disisiku, saat gunung terjal harus kulalui, Dia menopangku. Dan bila tiba waktunya melalui lembah-lembah kekelaman, Dia menggendongku.
Kini aku mau berkata dengan bangga, pekerjaan ibuku adalah seorang pembantu, tapi dia lakukan segala yang dia bisa dan dia tahu untuk aku tidak menjalani jalan-jalan yang pernah dilaluinya. Dia adalah ibu yang terbaik yang ada di dunia buatku. Dia memang tidak sempurna, tapi dia tetap yang terbaik.
Jika dulu pernah kusesali mengapa aku dilahirkan karena ayahku itu, dan mengapa harus ibuku bertemu dengannya. Kini aku mau bersyukur, jika saja ayahku tidak bertemu ibuku, mungkin yang lahir hari itu bukanlah Puji, tapi seseorang yang lain.
Kelahiranku memang membuatku menjadi seorang anak tanpa ayah dan di besarkan oleh ibu yang bekerja sebagai pembantu. Namun ketika aku menerima Yesus sebagai Tuhan dan Bapaku, aku dilahirkan kembali, jati diriku yang sejati adalah anak Allah.
Cerita ini belum berakhir, karena hari-hariku di depan masih panjang. Namun siapapun Anda, apapun latar belakang Anda, ketahuilah satu hal, semua itu tidak menentukan siapa diri Anda sebenarnya. Dunia ini bisa menilai siapa diri kita menurut cara pandang mereka, tapi sadarilah, satu-satunya penilaian yang harus Anda percayai adalah penilaian Allah. Dan jika Anda bertanya bagaimana Dia memandang diri Anda, sama seperti jawaban yang saya terima dariNya, Dia akan berkata, “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu” (Yesaya 43:4). Anda dikasihi oleh Bapa…

(Artikel ini di ikut sertakan dalam Writing Competition CIBfest 2009)

Comments
2 Responses to “Perjumpaan Yang Mengubah Hidupku”
  1. murni mengatakan:

    Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia.

    Sesuai dengan konteks tersebut kan? Berarti Tuhan tuh konsekwen sama kata2Nya. Amin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • artikel paling top

    • Tak ada
AsiXyo Photography

Art Photography

Maholtraway

Life is about your daily choice

...::: Sm@rT :::...

Just another WordPress.com weblog

copywriter

Just another WordPress.com weblog

%d blogger menyukai ini: