Sebuah Panggilan, Hasrat yang Tak Terpadamkan


Pernah memiliki sebuah ‘Hasrat’ yang rasanya tak dapat di tahan lagi? Saya rasa semua manusia pernah mengalaminya. Minimal hasrat alami untuk sebuah panggilan alam.. ha..ha.ha.. namun begitulah contoh konkret tentang hasrat yang kuat. Hasrat yang kuat itu haruslah seperti sebuah panggilan alam. Sesuatu yang harus terpenuhi, jika tidak diri kita tidak nyaman dan rasanya mau meledak.

Hasrat yang tak terpadamkan memampukan kita untuk menjalani hari-hari penuh perjuangan, terkadang saat-saat menjenuhkan, terkadang situasi tanpa harapan, tapi hasrat dan panggilan tidak akan membiarkan kita menyerah. Hasrat dan panggilan hidup kita akan membuat kita terus bertahan dan maju sekalipun harus merangkak dengan segala luka dan kesakitan.

Hasrat yang seperti ini dikisahkan oleh John C Maxwell dengan contoh seorang penemu benua Artik, Robert Peary, dan Ernest Shackleton. Namun Shackleton dikenal oleh dunia bukan karena dia menemukan benua Artik, tapi lebih karena kegigihannya dalam menghadapi kegagalan yang hampir berakibat fatal.

Tahun 1914, Shackleton meningalkan benua Inggris untuk menjadi orang pertama yang menyeberangi benua Artik dengan berjalan kaki. Dia pergi bersama timnya yang berjumlah 26 orang.

Panggilan Shackleton ini di pacu oleh hasrat alaminya. Ayahnya seorang dokter, dan menghendaki Shackleton untuk masuk sekolah kedokteran juga. Namun hatinya telah di pikat oleh luasnya samudra. Pada saat dia melakukan pelayaran pertamanya, ketika mengelilingi Cape Horn dari ujung selatan Chile, ia mengecek rute selatan. Saat itulah dia terpikat dengan benua putih Antartika. Dia mulai bermimpi menyelidiki perut bumi yang di selimuti es itu. Ia mulai bergairah, dan karena saat itu belum pernah ada yang melakukan perjalanan ke titik bumi paling selatan itu, dia semakin tertantang.

Seperti semua panggilan lainnya, hal ini bukanlah sebuah perjalanan semalam, ini adalah pengejaran seumur hidup. Selama 24 tahun dia mempersiapkan perjalanan itu. Dia bergumul dalam waktu yang panjang, sambil mempersiapkan segala sesuatunya hingga waktu yang dinantikannya itu tiba.

Ekspedisinya pada tahun 1914 itu adalah perjalanannya yang ketiga. Dia tidak ingin gagal oleh karena sebab apapun, apa lagi sampai dikalahkan orang lain, dia tidak ingin ada yang lebih dulu sampai di benua Artik itu sebelum dia menginjakkan kaki disana. Tanpa takut dan penuh persiapan matang dia menjalani perjalanan menuju Antartika.

Satu hari setelah Skeleton mendaratkan orang-orangnya di Antartika, kapal mereka terperangkap oleh gundukan es padat yang terbentuk lebih cepat dari biasanya. Kapal mereka rusak karena membentur es. Kapal itu tenggelam dan mereka terdampar di pulau es.

Saat itu Shakleton menyadari panggilan utamanya bukanlah melintasi Antartika, tetapi memimpin ekspedisi manusia. Kisah cobaan berat yang mereka alami dan sangat lama sulit dipercaya. Mereka mendorong, menyeret dan menarik tiga sekoci sejauh 950 km di atas permukaan es. Lima belas bulan setelah mereka terdampar, mereka mencapai laut lepas pada April 1916. Setelah itu mereka berlayar dengan tiga sekoci kecil itu sejauh 150 km ke utara, untuk mencapai pulau terdekat, yaitu Elephant Island.

Setelah menyadari wilayah itu tidak terlalu berguna, karena hampir bisa dikatakan sebagai pulau mati, Shakleton mengajak lima orang bersamanya sengan salah satu sekocinya mencari bantuan dari penduduk sekitar, di South Georgia Island. Itu adalah pelayaran sejauh 13000 km menyeberangi samudra dengan kapal kecil terbuka. Mereka bergantung pada alat navigasi untuk mengetahui posisi. Jika mereka melakukan kesalahan satu derajat saja, mereka akan hilang di tengah lautan.

Selama 18 hari ke South Georgia merupakan sebuah prestasi terbesar bidang kelautan saat itu, namun pendaratan mereka tidak mulus. Mereka terbawa angin ke sebuah pulau tak berpenghuni. Kemudian mereka masih harus berjalan menyeberangi gunung bersalju hanya dengan kaki dan tangan yang beku, serta tambang sepanjang 27 m, dan peralatan tukang kayu, mereka menyelesaikan pendakian selama 66 jam. Dan hal tersebut baru bisa dilakukan hanya oleh pasukan elite Inggris beberapa tahun kemudian dengan peralatan lengkap. Akhirnya pada tanggal 20 Mei 1916 sore, mereka sampai ke pelabuhan penangkapan ikan paus, tempat mereka pertama kali berangkat. Saat mereka masuk ke kantor pelabuhan, orang-orang menatap ‘hantu-hantu’ itu, dan salah satu bertanya, “Siapa Anda?” Salah satunya menatap dan menjawab, “Saya Shackleton.” Shackleton tidak kehilangan seorangpun dari timnya. Itulah pencapaian sejatinya.

Apa yang digambarkan oleh kehidupan Shackleton adalah tentang kegigihan. Sebuah hasrat hidup yang tak terpadamkan. Panggilan hidupnya adalah untuk memimpin sebuah ekspedisi kehidupan. Dan luar biasanya, setiap orang memiliki panggilannya masing-masing yang unik. Panggilan itu menjadi hasrat yang tak terpadamkan oleh waktu, situasi dan orang-orang. Orang yang mengejar panggilannya, adalah mereka yang terbakar oleh hasratnya. Dan pendirian mereka sekokoh batu karang.

Apa yang menjadi panggilan kehidupan Anda? Kejarlah! Tidak ada kata terlambat untuk memulai. Tidak ada kata tidak mungkin untuk mencapainya. Yang ada adalah sebuah pertanyaan “Apakah Anda mau membayar harganya?”
Jadi selamat mengejar panggilan Anda, Be Smart and Success…!

(Cerita di adaptasi dari Life@work, John C Maxwell, BIP)

Comments
4 Responses to “Sebuah Panggilan, Hasrat yang Tak Terpadamkan”
  1. daaan mengatakan:

    Ketika rencanaku bukan rencanaMu haduh *duaaaar*😀

  2. timmy mengatakan:

    wow, keren bro,.
    hehe….
    sangat memberkati
    hehe

  3. gratcia mengatakan:

    Hi…ya, boleh banget, silahkan saja🙂 Terimakasih ya…

    Seharusnya komentar saya yg kemarin itu adalah untuk entry yang ini, salah klik kayaknya jadinya malah di entry yg Bicara Ttg Cinta tsb, eniwei…semua entri2nya sangat inspiratif, terimakasih sudah sharing.

    In Christ we stand🙂 GBU.

    Gratcia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • artikel paling top

    • Tak ada
AsiXyo Photography

Art Photography

Maholtraway

Life is about your daily choice

...::: Sm@rT :::...

Just another WordPress.com weblog

copywriter

Just another WordPress.com weblog

%d blogger menyukai ini: