Aku lebih suka menjadi abu dari pada debu.

Aku lebih suka percikanku terbakar dengan nyala api cermerlang daripada tertahan oleh kayu yang lapuk.

Jack London

 

Ketika di usia 30-an, Lou, ayah saya dengan berani memutuskan keluar dari bisnis perkayuannya yang mapan untuk mengejar impian seumur hidupnya, yaitu menjadi dokter. Ketika itu saya masih 7 tahun.

Ayah saya adalah pria pekerja keras dan membumi dengan etos kerja keras tanpa henti. Ia berasal dari masyarakat petani kecil di Wisconsin, dan sebagian besar kerabatnya adalah petani. Dibutuhkan kemampuan besar bagi anak laki-laki pedesaan berumur 30 tahun untuk mewakili mimpi yang tinggi dan jauh dari jangkauan seperti itu, dan ia tidak benar-benar didukung. Banyak yang berpikir ia bodoh karena melepaskan sesuatu yang telah menjadi naungan hidup demi mengejar sesuatu yang tampaknya seperti fantasi pria muda. Hal itu benar-benar membutuhkan kemampuan besar, tapi ayah saya percaya bahwa ia mampu meraih cita-citanya dengan bekerja keras dan tekad.

Tahun-tahun mempelajari  keajaiban dunia kedokteran benar-benar melelahkan, dan saya menyaksikan pengejaran ayah dengan terpesona dan kagum. Ia menghabiskan waktu berjam-jam selama berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan untuk memahami buku-buku tebal tentang berbagai penyakit infeksi dan penangkalnya. Ujian yang intensif telah membuat rata-rata mahasiswa jatuh. Namun, ia sering terjaga sampai malam dengan kopi ditangan, bersiap untuk ujian yang sulit.

Saya teringat tindakan kreatif yang ayah ambil untuk mendorong perjalanannya selama jam-jam tanpa akhir itu. Salah satu usahanya yang sangat berani meliputi membangun loteng belajar gantung di sudur ruang keluarga. Ia menggantung dengan menggunakan rantai tebal. Gantungan itu ia letakkan secara horizontal, satu set berdekatan dengan yang lainnya setinggi beberapa kaki.

Ia menggantung tumbuhan merambat yang indah di sekitar daerah itu, menciptakan penampilan rumah pohon yang bergantung di langit-langit. Dengan beberapa kasur lantai dan sebuah stereo kecil untuk memainkan musik yang menenangkan, ayah saya menciptakan area belajar yang paling nyaman yang bisa dibayangkan orang. Tempat itu sempurna  bagi seorang pria yang lebih suka duduk bersila ketika menghabiskan berjam-jam waktu yang terjadwal untuk berkonsentrasi dan tenggelam dalam buku-buku.

Akhirnya, kegigihan ayah saya terbayar. Setelah beberapa tahun bekerja keras secara mental, ia menjalani kerja praktik dan selanjutnya menjadi dokter. Ia senang membantu orang selama lebih dari 12 tahun sekarang. Ia terus mendidik dirinya dengan memberi dan menghadiri seminar kedokteran di seluruh dunia. Saya sangat bangga terhadap ayah saya karena mengikuti impiannya. Tak ada satupun yang boleh merintangi jalannya, meskipun rintangan menghadang sejak awal. Ada pribahasa kuno Eskimo, “Ketika Anda sudah pergi begitu jauh sehingga tidak dapat melangkahkan kaki lagi, maka Anda telah pergi setengah jarak dari yang Anda mampu.”
Apa yang menjadi impian Anda? Apapun itu, tidak ada kata terlambat untuk memulai. Anda bisa mencapainya, yang Anda perlukan adalah semangat, kerja keras dan kegigihan. Catch your dream…! Be Smart And Success…

 

Dikutip dari : Positive Parenting, Diana Loomans, Bhuana Ilmu Populer